Ditulis oleh Chaka Priambudi
Kalau mendengar kata angklung, dulu kita hanya terbayang “oh alat musik khas sunda” tapi kini sejak ada media sosial ternyata penggunaan angklung sudah dikenal luas sampai ke penjuru pulau jawa bahkan seluruh dunia.
Warisan Budaya yang Kaya
Angklung bukan sekadar alat musik, tetapi juga bagian dari warisan budaya Indonesia yang kaya. Alat musik ini berasal dari Jawa Barat dan telah ada sejak zaman kerajaan Sunda kuno. Angklung sering dikaitkan dengan berbagai upacara adat dan tradisi masyarakat Sunda.
Apa yang membuat alat musik angklung begitu diminati?
- Mudah dimainkan, untuk membunyikan alat musik ini ternyata tidak sulit, cukup menggoyangkan saja, alat ini sudah bisa berbunyi dengan baik. tidak perlu teknik khusus untuk memainkan alat ini sehingga siapa saja bisa dengan mudah mempelajarinya.
- Suara yang nyaring tanpa perlu pengeras suara sudah terdengar jelas, hal ini memudahkan untuk dipakai manggung.
- Ringan, banyak pengamen menggunakan angklung karena ringan dibawa kemana saja.
- Bentuk yang khas, sehingga mudah dikenali. beberapa musisi luar negeri juga menggunakannya seperti safri duo terpantau menggunakan angklung pada set perkusi milik mereka.
Penggunaan angklung pada musik Indonesia saat ini paling sering dijumpai pada musik tradisional dan koplo.
Lagu Mendung Tanpo Udan – Ndarboy Genk menggunakan bunyian angklung pada rhythm sectionnya, silahkan cek di menit 3.38
Cara Stem
- Untuk menaikan nadanya, kita cukup memotong panjang bilahnya, makanya semakin tinggi nada angklung, ukurannya semakin kecil.
- Untuk menurunkan nadanya, kita cukup menyerut bagian dalam bilahnya supaya lebih pipih.
Cara merawatnya:
- Bambu sebetulnya tahan cuaca, namun jika terlalu panas bisa pecah atau retak. misalnya terlalu lama dibawah terik matahari, untuk itu biasakan memainkandan menyimpan angklung di tempat yang teduh.
- Jangan terkena basah, karena kelembapan bisa menumbuhkan jamur yang mengundang rayap.
Inovasi angklung
Dulu waktu saya masih SD, saya ikut tampil dalam ansamble (ensemble) angklung, tiap buah angklung dimainkan oleh seorang anak, dan setiap anak menghafal nadanya berdasarkan tulisan not angka. Guru kesenian akan menjadi conductor dengan menunjuk ke papan tulis yang bertuliskan not angka lagu tertentu. pelajaran solfege / solmisasi menjadi penting untuk dihafal semua murid dan kebiasaan ini
Di Saung angklung Udjo (Jawa barat) pertunjukan angklung dibuat interaktif melibatkan penonton, Host menggunakan metode Kodaly yaitu bentuk hand sign. penonton diminta membunyikan angklung berdasarkan instruksi mengikuti ritme gerakan tangan conductor.
*Hand sign adalah teknik pengajaran musik yang mengubah fungsi notasi menjadi gerakan tangan.
Sekitar tahun 2000 awal, mulai muncul angklung toel yang bentuknya meniru posisi piano, dimainkan oleh satu orang, angklung toel umumnya dibuat sekitar 2 octave lebih sehingga memungkinkan player memainkan lebih dari 1 nada, bahkan dengan teknik tertentu dapat membuat harmoni / chord.
Angklung juga biasa dimainkan dalam ensemble tradisional, bersama dengan gambang bambu, kendang, suling.
Promosi dan Pelestarian
Berbagai upaya promosi dan pelestarian angklung terus dilakukan oleh pemerintah, lembaga budaya, maupun individu-individu yang peduli terhadap seni tradisional. Hal ini dilakukan melalui berbagai cara, seperti mengadakan workshop, pelatihan, pameran, maupun pertunjukan angklung. Selain itu, popularitas angklung juga didukung oleh media sosial dan platform digital lainnya.
*Salah satu anak muda Indonesia yang turut mempopulerkan angklung adalah Manshur, yang tampil di DC- USA
Pengakuan Internasional
Angklung telah mendapatkan pengakuan internasional sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO pada tahun 2010. Pengakuan ini semakin meningkatkan popularitas angklung di dunia dan mendorong banyak orang untuk mengenal dan mempelajari alat musik ini.